PERAN,PROSES,DAN
PENGGUNAAN BIOTEKNOLOGI PADA PENGOLAHAN
LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT
Oleh:
Putra
Al-khair Lubis
4112210009
Jurusan
Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas
Negeri Medan
PENDAHULUAN
Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar untuk
pengembangan industri kelapa sawit. Pada saat ini perkembangan industri kelapa
sawit tumbuh cukup pesat. Mempunyai dampak positif dan dampak negatif bagi
masyarakat. Dampak positif yaitu meningkatkan devisa negara dan kesejahteraan
masyarakat meningkat, sedangkan dampak negatif yaitu menimbulkan limbah yang
dapat mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Definisi limbah adalah kotoran atau buangan yang
merupakan komponen penyebab pencemaran terdiri dari zat atau bahan yang tidak
mempunyai kegunaan lagi bagi masyarakat. Limbah industri kebanyakan
menghasilkan limbah yang bersifat cair atau padat yang masih kaya dengan zat
organik yang mudah mengalami peruraian. Kebanyakan industri yang ada membuang
limbahnya ke perairan terbuka, sehingga dalam waktu yang relatif singkat akan
terjadi bau busuk sebagai akibat terjadinya fermentasi limbah. Sebagian
pengusaha industri yang akan membuang limbah diwajibkan mengolah terlebih
dahulu untuk mencegah pencemaran lingkungan hidup disekitarnya.
Metode yang digunakan adalah pengolahan limbah
secara fisik, kimia dan biologi atau kombinasi untuk mengatasi pencemaran.
Limbah cair yang berasal dari industri sangat bervariasi, serta tergantung dari
jenis dan besar kecilnya industri. Pada saat ini umumnya industri melakukan
pengolahan limbah cair secara kimia yaitu proses koagulasi –flokulasi, sedimentasi
dan secara flotasi dengan
menggunakan udara terlarut, serta pengolahan limbah cair secara biologi yaitu
proses aerob dan proses anaerob. Proses kimia seringkali
kurang efektif dikarenakan biaya untuk pembelian bahan kimianya cukup tinggi
dan pada umumnya pengolahan air limbah secara kimia akan menghasilkan sludge yang cukup banyak, sehingga
industri harus menyediakan prasarana untuk penanganan sludge. Pada pengolahan limbah cair secara flotasi akan menggunakan energi yang
cukup banyak. Pada proses pengolahan limbah secara biologi, umumnya menggunakan
lahan yang cukup luas dan energi yang banyak dan menjadi pertimbangan bagi industri
yang terletak didaerah yang mempunyai lahan sempit. Berdasarkan data diatas,
maka untuk meminimisasi masalah tersebut salah satu teknologi yang dapat
digunakan pada pengolahan limbah cair adalah teknologi membran.
Penurunan kualitas air dapat disebabkan oleh adanya
kandungan bahan organik dan anorganik yang berlebihan. Adanya senyawa organik
dalam perairan akan dirombak oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut.
Perombakan ini akan menjadi masalah jika senyawa organik terdapat dalam jumlah
yang banyak.Penguraian senyawa organik akan memerlukan oksigen yang sangat,
sehingga dapat menurunkan kadar oksigen terlarut perairan samapai titik yang
terendah akibat dekomposisi aerobik akan terjadi, sehingga pemecahan selanjutnya
akan dilakukan oleh bakteri anaerobik.
Pada saat ini pengolahan limbah cair industri kelapa
sawit umumnya dilakukan dengan menggunakan metode proses kombinasi, yaitu
fisika dan biologi. Metode ini mempunyai kelebihan pengolahannya cukup murah, tetapi
kekurangannya adalah lahan yang digunakan untuk pengolahan limbah cair cukup
besar, tetapi bagi industri yang mempunyai lahan terbatas karena proses diatas
sulit dilakukan untuk membantu industri yang mempunyai keterbatasan lahan, maka
kami mencoba untuk menggunakan teknologi membran dalam pengolahan air limbah
industri kelapa sawit.
Kelapa
sawit adalah salah satu komoditi andalan Indonesia yang perkembangannya
demikian pesat. Selain produksi minyak kelapa sawit yang tinggi, produk samping
atau limbah pabrik kelapa sawit juga tinggi. Secara umum limbah dari pabrik
kelapa sawit terdiri atas tiga macam yaitu limbah cair, padat dan gas. Limbah
cair pabrik kelapa sawit berasal dari unit proses pengukusan (sterilisasi),
proses klarifikasi dan buangan dari hidrosiklon. Pada umumnya, limbah cair
industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga potensial
mencemari air tanah dan badan air. Sedangkan limbah padat pabrik kelapa sawit
dikelompokan menjadi dua yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dan
yang berasal dari basis pengolahan limbah cair. Limbah padat yang berasal dari
proses pengolahan berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), cangkang atau
tempurung, serabut atau serat, sludge atau lumpur, dan bungkil. TKKS dan lumpur
yang tidak tertangani menyebabkan bau busuk, tempat bersarangnya serangga lalat
dan potensial menghasilkan air lindi (leachate). Limbah padat yang berasal dari
pengolahan limbah cair berupa lumpur aktif yang terbawa oleh hasil pengolahan
air limbah.
Kelapa sawit (Elaeis)
adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri,
maupun bahan bakar (biodiesel). Indonesia merupakan negara penghasil minyak
kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Di Indonesia penyebarannya di daerah
Aceh, Pantai Timur, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Habitat aslinya
adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis.
Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0 – 500 m dari permukaan laut dengan
kelembaban 80% – 90%. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Sawit membutuhkan
iklim dengan curah hujan stabil. 2000 – 2500 mm setahun, yaitu daerah yang
tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah
hujan tahunan mempengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.
Teknik pemisahan dengan membran umumnya berdasarkan
ukuran partikel dan berat molekul dengan gaya dorong
berupa beda tekan, medan listrik dan beda konsentrasi. Proses
pemisahan dengan membran yang memakai gaya dorong berupa beda
tekan umumnya dikelompokkan menjadi empat jenis diantaranya mikromembran, ultramembran, nanomembran dan reverse osmosis.
Teknologi
membran memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan proses
lain, antara
lain :
• Pemisahan
dapat dilakukan secara kontinu
• Konsumsi
energi umumnya relatif lebih rendah
• Proses membran
dapat mudah digabungkan dengan proses pemisahan lainnya
( hybrid processing)
• Pemisahan
dapat dilakukan dalam kondisi yang mudah diciptakan
• Mudah dalam scale up
• Tidak perlu
adanya bahan tambahan
• Material
membrane bervariasi sehingga mudah diadaptasikan pemakaiannya.
METODE PENELITIAN
A.
BAHAN- BAHAN PENELITIAN
Bahan-
bahan yang digunakan pada percobaan adalah :
1.
Air limbah industri kelapa sawit.
2.
Aquades
3.
Asam Nitrat
4.
Standar analisa logam Zn, Fe, Cr
5.
Methylene blue
6.
Standar warna
7.
Standar pH
8.
NaOH
B.
PERALATAN PENELITIAN
Peralatan
yang digunakan pada percobaan adalah :
1.
Membran reverse osmosis
2.
Membran keramik
3.
Peralatan gelas
4.
pH meter
5.
Atomic Absorption Spectrofotometer (AAS)
6.
U.V. Spektrofotometer
7.
Neraca Analititk
8.
Kertas whatman
9.
Peralatan uji kekeruham
10.
Peralatan uji warna
PROSEDUR PENELITIAN
-
Menganalisa karakterisitk air limbah industri kelapa sawit, seperti
BOD,COD,TSS dan TDS
-
Mengkombinasikan pengolahan secara anaerobik dan membran reverse
osmosis, serta menganalisa effluentnya
-
Mengkombinasikan pengolahan secara anerobik-aerobik- membran reverse
osmosis, serta menganalisa effluentnya
-
Mengolaha air limbah menggunakan membran keramik dengan variabel suhu
( 27 oC, 40oC, 50oC dan 60oC) serta
menganalisa effluentnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada proses pengolahan kelapa sawit menjadi
CPO, selain menghasilkan minyak sawit tetapi juga menghasilkan limbah cair,
dimana air limbah tersebut berasal dari :
· Hasil kondensasi uap
air pada unit pelumatan ( digester) dan unit pengempaan(pressure).
Injeksi uap air pada unit pelumatan bertujuan mempermudah pengupasan daging
buah, sedangkan injeksi uap bertujuan mempermudah pemerasan minyak. Hasil kondensasi
uap air pada kedua unit tersebut dikeluarkan dari unit pengempaan
· Kondensat dari
depericarper, yaitu untuk memisahkan sisa minyak yang terikut bersama
batok/cangkang
· Hasil kondensasi uap
air pada unit penampung biji/inti. Injeksi uap kedalam unit penampung biji
bertujuan memisahkan sisa minyak dan mempermudah pemecahan batok maupun inti
pada unit pemecah biji
· Kondensasi uap air
yang berada pada unit penampung atau penyimpan inti
· Penambahan air pada
hydrocyclone yang bertujuan mempermudah pemisahan serat dari cangkang.
· Penambahan air panas
dari saringan getar, yaitu untuk memisahkan sisaminyak dari ampas.
Limbah cair kelapa
sawit mengandung konsentrasi bahan organik yang relatif tinggi dan secara alamiah
dapat mengalami penguraian oleh mikroorganisme menjadi senyawa-senyawa yang
lebih sederhana. Limbah cair kelapa sawit umumnya berwarna kecoklatan,
mengandung padatan terlarut dan tersuspensi berupa koloid dan residu minyak
dengan kandungan BOD tinggi. Berdasarkan hasil analisa pada tabel 1 menunjukkan
bahwa limbah cair industri kelapa sawit bila dibuang kepengairan sangat
berpotensi untuk mencemari lingkungan, sehingga harus diolah terlebih dahulu
sebelum di buang keperairan. Pada umumnya industri kelapa sawit yang berskala
besar telah mempunyai pengolahan limbah cair.
Ø Proses Pengolahan
Limbah Cair Industri Kelapa Sawit
Teknik
pengolahan limbah cair industri kelapa sawit pada umumnya menggunakan metode
pengolahan limbah kombinasi. yaitu dengan sistem proses anaerobikdan aerobik. Limbah
cair yang dihasilkan oleh pabrik kemudian dialirkan ke bak penampungan untuk
dipisahkan antara minyak yang terikut dan limbah cair. Setelah itu maka limbah
cair dialirkan ke bak anaerobik untuk dilakukan proses anaerobik. Pengolahan
limbah secara anaerobik merupakan proses degradasi senyawa organik seperti
karbohidrat, protein dan lemak yang terdapat dalam limbah cair oleh bakteri
anaerobik tanpa kehadiran Oksigen menjadi biogas yang terdiri dari CH4 (50-70%),
serta N2, H2, H2S dalam jumlah kecil. Waktu tinggal limbah cair pada bioreactor
anaerobik adalah selama 30 hari.Berdasarkan hasil analisa diatas menunjukkan
bahwa proses anaerobik dapat menurunkan kadar BOD dan COD limbah cair sebanyak
70 %. Setelah pengolahan limbah cair secara anaerobik dilakukan pengolahan
limbah cair dengan proses aerobic selama 15 hari. Pada proses pengolahan secara
aerobik menunjukkan penurunaan kadar BOD dan Kadar COD adalah sebesar 15 %,
yaituBerdasarkan hasil analisa diatas menunjukkan bahwa air hasil olahan telah
dapat dibuang ke perairan , tetapi tidak dapat digunakan sebagai air proses
dikarenakan air hasil olahan tersebut masih mempunyai warna kecoklatan.
Limbah
cair yang dihasilkan oleh pabrik kemudian dialirkan ke bak penampungan
untuk dipisahkan antara minyak yang terikut dan limbah cair. Setelah itu
maka limbah cair dialirkan ke bak anaerobik untuk dilakukan proses anaerobik. Pengolahan
limbah secara anaerobik merupakan proses degradasi senyawa organic seperti
karbohidrat, protein dan lemak yang terdapat dalam limbah cair oleh bakteri anaerobik
tanpa kehadiran Oksigen menjadi biogas yang terdiri dari CH4 (50-70%), serta
N2, H2, H2S dalam jumlah kecil. Waktu tinggal limbah cair pada bioreactor
anaerobik adalah selama 30 hari. Setelah proses anaerobik maka dilakukan
analisa karakteristik effluen yang dihasilkan.
Tabel .
Karakteristik Air Hasil Olahan Setelah Proses Anaerobik
|
NO
|
Parameter
|
Hasil analisa
|
|
1
|
BOD
(mg/l)
|
1890
mg/l
|
|
2
|
COD
(mg/l)
|
3025
mg/l
|
|
3
|
TSS
(mg/l)
|
5579 mg/
|
|
4
|
TDS
|
7890
mg/l
|
|
5
|
pH
|
7
|
|
6
|
Temperatur
|
30
C
|
Ø Kombinasi Proses
pengolahan anaerobik-aerobik- membran reverse osmosis
Pada pengolahan
limbah cair kelapa sawit, pengolahan akhir adalah proses secara aerobik dan
setelah air hasil olahan dapat dibuang ke perairan. Hal ini bertujuan untuk
memanfaatkan air hasil olahan tersebut untuk recycle dan air minum, sehingga
perlu dilakukan pengolahan lagi. Air hasil olahan dari proses aerobik dialirkan
ke membran reverse osmosis dengan tekanan 8 kg/cm2 dan laju alir 100 ml/menit.
Air hasil olahan dari membran reverse osmosis kemudian dianalisa.Berdasarkan
dari hasil analisa diatas menunjukkan bahwa air hasil olahan dari pengolahan
kombinasi diatas effluentnya dapat digunakan sebagai air minum dan dapat
digunakan untuk recycle air proses.
Ø Pengolahan Air Limbah Menggunakan Membran Keramik
Pada pengolahan dengan membran keramik menggunakan
variabel suhu, yaitu: 27oC, 40oC, 50oC dan 60oC. Dikarenakan membran keramik
mempunyai daya tahan tehadap suhu tinggi, dan air limbah keluar dari proses
mempunyai suhu sekitar 65oC. Hasil analisa penelitian dapat dilihat sebagai
berikut : Gambar Hasil analisa pada
penelitian membran keramik Vs Suhu (celcius)
Berdasarkan
data diatas menunjukkan bahwa hasil yang terbaik adalah dengan menggunakan suhu
27 derajat celcius.
KESIMPULAN
1. Pengolahan air limbah menggunakan kombinasi
anaerob-membran RO, menghasilkan effluent yang dapat memenuhi baku mutu air
limbah, tetapi belum memenuhi standar mutu air minum terutama untuk warna
2. Pengolahan air limbah menggunakan kombinasi
anaerob-aerob-membran RO, menghasilkan effluent yang memenuhi persyaratan air
minum, tidak berwarna, sehingga dapat direcycle lagi untuk proses produksi.
3. Pengolahan air limbah dengan menggunakan membran
keramik menghasilkan effluent yang dapat memenuhi persyaratan mutu air limabh,
tetapi belumm memenuhi standar mutu air minum. Kajian secara ekonomi
menunjukkan industri dapat memanfaatkan lahan IPAL untuk digunakan sebagai
lahan produksi. Pnegolahan air limbah dapat
SARAN-SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang
teknologi membran pada pengolahan limbah cair industri kelapa sawit dengan
variabel lain yang mempengaruhi kinerja membran
DAFTAR
PUSTAKA
SuprihantoNotodarmodjo
dan Anne Deniva, 2004 Penurunan zat
organik dan kekeruhan menggunakan teknologi membran ultrafiltrasi dengan system
aliran Dead-end. Proceeding ITB Sains & Tek. Vol 36 A, No. 1, 2004, hal
63-82. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Departemen Teknik Lingkungan
, ITB.
Ari
Firmansayah, Adi Saputra dan Ir. Tjandra Setiadi Meng, PhD 2003 . Evaluasi kinerja bioreaktor membran anaerob
dalam pengolahan limbah industry minyak kelapa sawit. Laporan penelitian.
Departemen Teknik Kimia.Fakultas Teknologi Indusitri, Institut Teknologi
Bandung.
Naibaho,
Ponten M. 1996. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Medan : Pusat
Penelitian Kelapa Sawit.
Naibaho,
Ponten M. 1999. Aplikasi Biologi dalam Pembangunan Industri Berwawasan
Lingkungan, Jurnal Visi
Angga Jatmika. 1996 Prospek penggunaan teknologi membran untuk
produksi
minyak
sawit merah. Warta PPKS, Vol 4(3) : 129-136.
P.L. Tobing dan Z. Poelengan. 2000 Pengendalian limbah cair pabrik kelapa sawit
secara biologis di Indonesia. Warta PPKS , vol 8
(2): 99-106,




Tidak ada komentar:
Posting Komentar